Tampilkan postingan dengan label rumah susun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah susun. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 April 2011

Tiny Kitchen Set

Setelah membaca tulisan saya mengenai "Mini Kitchen Set" (baca disini), salah seorang teman menanyakan mungkinkah  saya mendesainkan untuknya satu kitchen set yang lebih kecil lagi.  Ketika saya tanya; "Memang apa saja kegiatan memasakmu?"  Dia menjawab; "Paling hanya untuk memasak air atau membuat mie rebus..."
Yah... meskipun saya tidak setuju dia terlalu sering makan mie instant, tapi tetap saya gambarkan juga dapur mungil kemauannya.  Dapur ini akhirnya memang tidak jadi dibuat, karena dia berubah pikiran.  Tapi tidak ada salahnya kan, saya ceritakan di blog ini.  Sekedar sharing...

Sama seperti MINI kitchen set yang terdahulu, TINY kitchen set menganut sistem rangka yang dibentuk oleh besi kotak 3x3cm.  Seperti pendahulunya, rangka direncanakan di cat powder coating wana abu-abu muda.  Rangka kemudian ditutup dengan MDF 18mm, yang langsung di melamic saja, tanpa proses pewarnaan lagi.  Namun akhirnya beberapa bagian diputuskan akan difinishing dengan cat duco dan HPL untuk meningkatkan daya tahan.

Tiny Kitchen Set
Secara umum TINY terdiri dari 3 modul.  Modul-1 adalah modul utama yang mewadahi tempat cuci piring.  Modul-2 adalah rangka untuk tempat kompor kecil.  Sedangkan Modul-3 adalah lemari kecil yang "bersandar" ke modul-1, untuk tempat piring, gelas, dan peralatan masak ukuran kecil.  Dalam keadaan tertutup (lihat gambar) TINY hanya memerlukan tempat seluas 0,53x0,75m atau sekitar 0,4m2.

Modul-2 (tempat kompor) memiliki roda sehingga dapat digeser untuk masuk/keluar dari modul-1.  Jadi ketika akan digunakan, modul-2 harus ditarik keluar dari modul-1, kemudian jika sedang tidak digunakan, modul-2 dapat didorong kembali ke dalam modul-1).  Modul -1 memiliki daun yang dapat digunakan sebagai meja (jika terbuka) atau sebagai penutup modul-2 (jika dapur dalam keadaan tertutup).

Bagaimana, sudah cukup kecil kan...?

Minggu, 10 April 2011

Cara Hidup di Rumah Susun

Image dari VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis
Belum lama ini saya mengantar salah seorang keluarga melakukan serah terima unit rumah susun (Rusun) di daerah Jakarta Selatan.  Ketika serah terima tersebut dilakukan, saya berharap akan memperoleh semacam buku panduan mengenai cara/tata tertib untuk hidup di Rusun.  Karena bagaimanapun, cara hidup di hunian vertikal seperti Rusun akan berbeda dengan cara hidup di landed house yang selama ini kita jalani.

Karena tidak memperoleh "contekan" panduan dari acara tersebut, saya kemudian browsing untuk mengetahui seperti apa tata cata hidup di Rusun.  Berikut ini kutipan dari slide audio-visual yang disusun oleh Perumnas dan JICA, tahun 1991, mengenai Cara Hidup di Rumah Susun: Menuju Hari Esok Yang Lebih Baik.  Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi teman-teman yang akan memulai cara hidup baru di hunian vertikal/Rusun.

Selamat memulai cara hidup baru...

Senin, 28 Maret 2011

Menyulap Pintu Menjadi Rak Sepatu

Sepatu dan sandal adalah dua benda sehari-hari yang acap merepotkan dalam penyimpanannya. Sepatu dan sendal yang tidak ditata dengan baik, akan menimbulkan kesan kotor dan berantakan pada sebuah hunian. Masalah penyimpanan sepatu dan sendal menjadi lebih merepotkan jika hunian yang kita tempati memiliki luas yang terbatas, seperti di rumah susun atau kamar kost. Lalu, bagaimana mengatasinya?

Bagi kita yang tinggal di hunian terbatas, solusi utama masalah ini adalah dengan mengurangi "populasi" sepatu dan sendal yang ada di dalam rumah. Secara berkala, mungkin kita perlu menyortir sepatu dan sandal yang ada. Proses sortir harus mampu memisahkan sepatu yang (1) yang masih digunakan sehari-hari, (2) yang digunakan untuk keperluan khusus (pesta, gaun resmi), dan (3) yang sudah tidak akan/pernah digunakan lagi. Kelompok pertama akan menempati rak sepatu yang kita miliki, kelompok ke dua sebaiknya dimasukkan ke dalam kantung/kotak sepatu dan disimpan secara rapi di dalam lemari pakaian, sedangkan kelompok ke tiga dapat dipertimbangkan untuk diberikan kepada orang lain.

Solusi kedua yang dapat ditempuh adalah menegakkan disiplin dalam "menyimpan sepatu pada tempatnya" kepada seluruh anggota keluarga. Tanpa disiplin, sepatu/sandal lebih banyak berjejer di lantai dibanding berada didalam rak sepatu yang telah disediakan.

Solusi ketiga, memanfaatkan "ruang-ruang sisa" di dalam rumah sebagai tempat sepatu yang cantik (jika memang kebutuhan sepatu tidak dapat dikurangi lagi). Percaya atau tidak, salah satu "ruang sisa" yang dapat dimanfaatkan secara kreatif adalah daun Pintu anda, baik pintu kamar maupun pintu lemari. Syaratnya tentu pintu harus memiliki ruang yang cukup untuk menampung lebar sepatu ini. Perhatikan gambar untuk ide ini.

Rak sepatu dibuat dari besi holow bulat yang di-finishing menggunakan powder coating untuk menjamin daya tahan. Rak dapat dipasang dengan cara disekrupkan ke daun pintu tepat pada tulangannya agar menempel dengan kuat dan mampu menahan bobot sepatu yang akan diletakkan. Memang proses membuka dan menutup pintu menjadi perlu sedikit berhati-hati, namun, sepadan bukan dengan kemungkinan penghematan ruang yang dapat dilakukan.

Rak sepatu ini juga dapat dipasangkan langsung pada dinding, atau bagian tepi dari lemari. Nah, sekarang ada cukup tempat untuk sepatu-sepatu dan sandal-sandal anda.

Minggu, 27 Maret 2011

Mini Kitchen Set

Belum lama ini saya diminta seorang teman untuk membuatkan kitchen set bagi unit rumah susun yang akan ditempatinya. Karena dia masih lajang, tidak banyak memasak, dan tidak akan menetap lama disana, maka dia meminta agar kitchen set yang dibuatkan ini dapat simple, ringan, mudah pemasangan, gampang perawatan, dan dapat dipindahkan dengan mudah kelak.

Untuk menjawab permintaan tersebut, saya buatkan 3 modul meja besi yang masing-masing dapat digunakan sebagai tempat cuci piring, tempat memasak/meletakkan kompor, dan tempat bekerja/meracik masakan. ke-3 modul meja ini dibuat dari pipa besi kotak ukuran 3x3 cm yang difinishing powder coating. Top table masing-masing meja dibuat dari multipleks yang kemudian dilapisi oleh lembaran alumunium. Sedangkan penutup rangka juga menggunakan multipleks yang difinishing menggunakan laminasi taco sheet dan HPL.

Modul meja kerja dapat ditarik keluar ketika digunakan untuk memperluas bidang kerja, dan dapat dikembalikan untuk menghemat tempat. Pada bagian atas modul meja ini, dibuatan ambalan untuk meletakkan piring, microwave oven, dan perlengkapan-perlengkapan lainnya.

Tren Hidup di Rumah Susun

Dulu, ketika kita masih mempertahankan konsep "rumah harus menjejak tanah" atau landed house, kita rela menempuh perjalanan antara 40 hingga 60 Km untuk pulang-pergi dari rumah di bilangan Bekasi atau Tangerang menuju kantor di Jakarta setiap hari. Namun seiring dengan meningkatnya kemacetan, kenaikan harga BBM, dan semakin tidak rasionalnya harga rumah di pinggiran Jakarta, maka pilihan untuk hidup vertikal di rumah susun (yang meskipun kecil dan tidak berhalaman, namun dekat dengan tempat kerja) tampaknya tidak dapat ditolak lagi. Tinggal di rumah susun, mungkin merupakan salah satu solusi untuk menghindari masalah kemacetan dan mahalnya biaya transportasi yang dihadapi oleh warga kota Jakarta.

Bagi masyarakat menengah ke bawah, hidup vertikal dapat dilakukan di rumah susun sederhana milik (Rusunami) seperti yang 5 tahun belakangan ini mulai banyak dibangun. Di jakarta saja, hingga tahun 2011 ini, paling tidak sudah ada 30 rusunami yang siap dihuni. Lepas dari beragam masalah ketidak sesuaian kepemilikan/peruntukan yang acap dikemukakan, tinggal di rumah susun sudah pasti akan menjadi kebiasaan baru bagi masyarakat kota besar Indonesia.

Adalah menarik memperhatikan tren ini, sebagai sebuah hal/budaya/nilai baru, hidup bersama secara vertikal ini pasti membawa banyak "masalah" pada awalnya. Beberapa kebiasaan yang dapat dilakukan secara leluasa di landed house sudah pasti berpotensi membawa pertikaian jika langsung dibawa ke gaya hidup vertikal di rumah susun. Kegiatan memeras pakaian basah dan menjemurnya, memasak makanan dengan proses yang menciptakan asap/bau menyengat, membuang air bekas mengepel ke "tanah belakang", membuang puntung rokok melalui jendela, misalnya, mungkin perlu sedikit disesuaikan dalam tata kehidupan baru di rumah susun. Penghuni baru rumah susun, mungkin perlu melalui semacam "masa orientasi" yang dipandu secara terstruktur oleh pengelola unit rumah susun agar dapat menyesuaikan diri dengan gaya hidup baru tersebut secara lebih cepat dan sesuai dengan harapan bersama. Masa orientasi juga memperkecil potensi konflik antara penghuni lama dan pendatang baru.

(foto diambil dari klasik.kontan.co.id)