Tampilkan postingan dengan label sentra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sentra. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 April 2011

Sudut Baca-Tulis di Sekolah


Dalam sekolah dengan pendekatan sentra, Sudut  Literacy (baca-tulis)  adalah bagian ruang yang dikhususkan untuk belajar membaca dan menulis.  Didalamnya biasanya terdapat perpustakaan mini, papan baca, papan tulis, dan perangkat multimedia untuk memutar lagu atau video yang berhubungan dengan pengenalan huruf, angka, dan kosa kata.  Jika perlu dapat pula ditambahkan meja untuk kegiatan menulis diary/cerita pendek, atau komputer untuk belajar mengetik/bermain menggunakan aplikasi pengolah kata.

Papan baca berfungsi menampilkan kartu-kartu (flash card) huruf.  Papan baca memiliki lemari di bagian bawahnya yang dapat digunakan untuk menjamin kartu-kartu huruf dan media belajar membaca-menulis lainnya akan tersimpan rapih dan aman.  Daun pintu lemari dibuka dengan cara digeser dan memiliki bagian yang dapat dijadikan papan tulis atau whiteboard, yang dapat digunakan oleh anak-anak untuk melatih gerakan motorik halus/ ketrampilan menulisnya.

Selamat belajar membaca dan menulis.

Minggu, 03 April 2011

Menyiasati Keterbatasan Ruang Kelas

Bersyukurlah sekolah yang memiliki ruang-ruang yang cukup besar untuk menampung aktivitas siswanya, namun haruskah sekolah menyerah jika hanya memiliki ruangan yang terbatas?  Sebuah sekolah KB-TK di daerah Percetakan Negara menjawabnya dengan kreatif.

KB-TK Cikal Harapan Percetakan Negara adalah salah satu sekolah yang memilih menerapkan sistem Sentra/Area dalam metode pembelajarannya (tulisan lain mengenai sistem sentra dapat dilihat disini).  Dalam sistem sentra, sekolah/guru menciptakan area-area topikal untuk menampung pengalaman belajar yang sejenis.  KB-TK Cikal Harapan memiliki 5 sentra (maaf jika salah), yaitu (1) Sentra Seni, (2) Sentra Peran, (3) Sentra Persiapan, (4) Sentra Bahan Alam, dan (5) Sentra Balok.

Yang menarik adalah penataan ruang di ruang tempat sentra Peran.  Di dalam sentra peran, siswa dapat diberikan pengalaman untuk berperan menjadi (learning to-be) "manusia" dalam kehidupan sehari-hari, seperti tata cara berpakaian, di meja makan, bertamu, role playing perilaku di kendaraan umum, menjenguk orang sakit, berbicara, presentasi, membersihkan rumah dan kamar, dll.  Idealnya ruang sentra peran ini berukuran cukup luas untuk menampung beragam perlengkapan bermain yang dibutuhkan.  Namun, karena keterbatasan ruang, sekolah kemudian mengambil jalan membagi ruangan sentra peran-nya menjadi 2 secara vertikal dengan jalan membangun sebuah mezanin/panggung pada salah satu sisi ruang kelas sentra peran.  Bagi orang dewasa, mezanin ini memang terlalu pendek, namun bagi anak usia KB-TK tinggi panggung ini mencukupi.

Bagian bawah mezanin digunakan sebagai ruang dapur, ruang makan, ruang tamu, tempat berganti pakaian.  Bagian atas mezanin digunakan sebagai tempat tidur, tempat setrika, tempat perpustakaan mini, tempat bermain rumah-rumahan.
Panggung ini memang hanya membantu mengembangkan ruang kelas sebesar 1,25 kali dari ruangan aslinya, namun memberikan kemungkinan aplikasi permainan yang lebih luas.   Tiang-tiang mezanin, misalnya, dengan bantuan tirai dapat digunakan sebagai bahan/elemen “pembentuk” panggung pertunjukan boneka, panggung pertunjukan/presentasi siswa, TV (siswa menjadi pembaca berita).  Panggung juga dapat berubah menjadi bis, rumah, toko/warung, dlsb.  Panggung dibuat tetap dengan memperhatikan unsur-unsur keamanan seperti pemasangan pagar mika setebal 5mm agar siswa tidak "lolos" dari bagian bawah pagar panggung, dan "mengikat" panggung dengan baud fischer ke dinding.

Apa yang dilakukan KB-TK Cikal Harapan Percetakan Negara adalah solusi kreatif mengatasi keterbatasan ruang.

Pendekatan Sentra Dalam Proses Belajar Mengajar

Ketika berhubungan dengan sekolah pada tingkat KB dan TK, secara umum saya melihat ada 2 pendekatan yang dapat dipilih dalam melaksanakan proses belajar mengajar di sebuah sekolah pada tingkatan KB-TK tersebut.  Pendekatan pertama adalah pendekatan "Kelas", sedangkan yang kedua adalah pendekatan "Sentra".

Pada pendekatan "kelas", anak tetap berada di satu kelas sepanjang hari.  Guru kemudian membawa pengalaman belajar ke dalam kelas.  Sedangkan dalam pendekatan sentra, anak berpindah dari satu sentra/area/kelas ke sentra yang lain untuk mengakses pengalaman belajar yang disediakan.  Pendekatan sentra, kelihatannya, dipilih agar pengadaan pengalaman belajar menjadi lebih "kaya" dan fokus (karena ditempatkan di suatu area khusus) dan anak menjadi dinamis karena terbiasa berpindah mencari pengalaman baru (eksplorasi).

Bagi sekolah pendekatan sentra membuat proses pengadaan barang bagi kegiatan belajar menjadi lebih efisien, karena sekolah tidak perlu menyediakan set pengalaman belajar bagi setiap kelas yang ada.  Melainkan kelas-kelas dapat saling berbagi fasilitas/pegalaman dalam sentra yang digunakann bersama.

Dalam sistem sentra, sekolah/guru menciptakan area-area topikal untuk menampung pengalaman belajar yang sejenis.  Sepanjang yang saya ketahui, misalnya ada:
  1. Sentra "Seni", tempat anak mengeksplorasi semua hal yang berhubungan dengan kesenian, seperti menggambar, bermain musik, menari, mengapresiasi seni, membuat patung, membuat kerajinan tangan, dll.
  2. Sentra "Peran", dimana siswa dapat berperan menjadi "manusia" dalam kehidupan sehari-hari, seperti tata cara berpakaian, di meja makan, bertamu, role playing perilaku di kendaraan umum, menjenguk orang sakit, berbicara, presentasi, membersihkan rumah dan kamar, dll.
  3. Sentra "Persiapan", tempat siswa belajar materi-materi persiapan memasuki tingkat pendidikan yang lebih tinggi (SD), seperti belajar mengenal huruf, angka, membaca, menulis, dll.
  4. Sentra "Alam", sentra dimana siswa dapat mengenal bahan-bahan dan lingkungan alam, seperti air, batu, pasir, tanaman, binatang, angin, matahari, cuaca, iklim, benda langit, dll.
  5. Sentra "Balok", tempat anak melatih persepsi ruang, pandangan 3 dimensi, konstruksi, elemen fisika sederhana, dll.

Pasti ada keuntungan dan kerugian dalam masing-masing pendekatan ini, namun sepanjang pelaksanaan Belajar Mengajar berfokus pada perkembangan anak, dan dilakukan dengan hati yang tulus, penuh kesabaran, intensitas, serta kasih sayang, maka hasil akhirnya akan sama-sama luar biasa.

Ada yang memiliki pengalaman dengan pendekatan lainnya?  Silakan berbagi.