Rabu, 30 Maret 2011

Tak Ada Pohon, "Pohon Tiruan" Pun Jadi

Memanjat atau bermain panjat-panjatan mungkin naluri semua anak.  Di tahapan umur tententu, kita lihat mereka dengan berani dan penuh kegembiraan memanjat apa pun yang dapat dipanjatnya.  Hanya "teriakan" ibu dan/atau bapak lah yang menjadi penghalangnya.

Dengan memanjat tampaknya mereka melatih sekelompok otot-otot motorik dalam koordinasi gerakan, indra, dan keseimbangan secara bersama-sama.  Memanjat dan berayun bagi anak, tampak memberikan sensasi kegembiraan tertentu yang sulit dijelaskan oleh orang dewasa.

Sayangnya, kota besar seperti tempat saya tinggal mulai kehilangan pepohonan yang bisa dipanjat/digunakan untuk bermain oleh anak-anak, dan kehilangan ini berlangsung semakin cepat dari hari ke hari.  Syukurlah rumah kami masih memiliki sisa tanah yang bisa ditanami pohon.  Dihalaman muka kami menanam pohon rambutan dan pohon jambu.  Namun kedua pohon kami ini tampaknya enggan untuk cepat-cepat tinggi, jadi tampaknya kedua anak kami tidak akan sempat bermain panjat-panjatan di atas pohon ini di kala kecilnya.

Kami berpikir untuk membuat saja "popohonan" (pohon-pohonan/pohon tiruan - seperti pada gambar), jadi meskipun tidak di pohon betulan, tetapi ketrampilan memanjat tetap dapat diasah di pohon tiruan ini.

"Popohonan" terbuat dari pipa besi bekas yang dilas dan disatukan/dibentuk seperti cabang-cabang pohon, tentunya dengan hati-hati jangan ada sudut yang tajam, kemudian di cat dengan warna yang serasi.  Popohonan yang 3-dimensi (gambar disebelah kiri) dapat berdiri sendiri (tentunya perlu ditanam dalam pondasi yang baik), sedangkan popohonan yang 2-dimensi/pipih (gambar sebelah kanan) dapat dipasang menempel pada dinding pembatas atau dinding taman bermain menggunakan dynabolt.

Ide pohon tiruan yang 2-D (yang menempel ke dinding) ini dapat diaplikasikan oleh sekolah yang memiliki ruang terbatas namun tetap ingin menyediakan fasilitas panjat-panjatan.  Pohon  ini juga dapat dipasang di dalam ruangan (indoor), seperti di ruang tunggu, yang, dengan penataan yang tepat, dapat sekaligus berfungsi sebagai dekorasi untuk mempercantik ruangan.

Ayo memanjat...

Selasa, 29 Maret 2011

Standar Ukuran Meja dan Kursi Sekolah Indonesia

Rata-rata 68% waktu anak di sekolah (umum) dihabiskan dengan duduk di kursi sekolah.  Jadi, jika rata-rata waktu sekolah anak SD adalah 6 jam, misalnya, maka sekitar 4 jam akan mereka habiskan dengan duduk di kursi sekolah - setiap harinya.  Lama waktu duduk di kursi ini bisa menjadi lebih panjang, jika dirumah anak harus juga duduk untuk mengerjakan PR/pekerjaan rumah.

Hal ini menunjukkan, bahwa dalam menjalani aktivitas hariannya, anak-anak sama seperti kita orang dewasa, mereka juga membutuhkan kursi dan meja yang baik dan nyaman.  Pepatah ergonomi perkantoran bilang; "karyawan yang nyaman, adalah karyawan yang produktif", hal ini sebetulnya juga berlaku bagi anak, yaitu menjadi; "anak yang nyaman, adalah anak yang produkif".

Pertanyaan yang tersirat kemudian adalah, bagaimana sekolah dan kita/keluarga menyediakan hal tersebut?  Kenyamanan kursi bagi anak, misalnya, tidak dapat dipenuhi hanya dari empuk tidaknya dudukan kursi, atau melengkung tidaknya sandaran kursi.  Kenyamanan kursi bagi anak, utamanya dibentuk oleh (1) luas dudukan kursi, (2) tinggi dudukan kursi, dan (3) tinggi sandaran kursi.  Ke-3 faktor ini perlu berada dalam dimensi rata-rata yang tepat untuk mendukung ukuran tubuh anak.  Setelah ketiga faktor ini, faktor lain yang dapat dipertimbangkan adalah kontur dan keempukan dudukan dan sandaran, serta bobot dan mobilitas kursi.

Dudukan kursi yang luasnya terlalu kecil atau malah terlalu besar, atau terlalu tinggi (sehingga kaki menggantung) bukanlah kursi yang ideal bagi kegiatan belajar anak.  Pun demikian hal-nya dengan meja anak/siswa, meja yang tidak sesuai (terlalu tinggi/rendah) akan menyulitkan aktivitas anak dan membentuk postur tubuh yang salah.  Lalu berapakah dimensi kursi/meja anak yang ideal?

Terus terang, hingga saat ini, saya belum mendapatkan ketentuan/standar meja dan kursi sekolah untuk anak Indonesia.  Selama ini, dalam memproduksi barang/furniture anak/siswa, dalam menentukan ukurannya saya kerap mengacu pada dimensi badan anak atau keponakan saya, yang kira-kira seumur dengan kelas yang dituju. Misalnya untuk meja dan kursi siswa SD kelas 1 atau 2, biasanya saya tetapkan daun meja setinggi 60cm, dan tempat duduk kursi setinggi 35cm (namun pada akhirnya tentu tergantung pada keinginan pihak sekolah).  Browsing dan coba-coba tanya ke pihak-pihak yang memiliki kaitan ke Kemdiknas juga tidak membuahkan keterangan, apakah Indonesia memiliki standar ukuran bagi meja dan kursi anak/siswa atau tidak (mohon maaf jika saya salah).
Gambar dari: www.schoolfurniture.uk.com
Satu ketentuan yang pernah saya lihat berasal dari Inggris (UE)- lihat gambar.  Disana, tinggi dudukan kursi dan sandaran kursi telah dicoba distandarkan menurut usia anak, atau menurut panjang betis anak (dari alas tumit hingga lipatan sendi dengkul).  Lumayanlah, meskipun anak Inggris mungkin sedikit lebih tinggi badannya dibanding anak Indonesia, namun setidaknya panduan tersebut dapat saya gunakan untuk menetapkan tinggi dudukan kursi yang akan dibuat .

Untuk ukuran tinggi meja, saya biasanya mengawali dengan mengacu pada panduan dibawah ini.  Panduan tersebut saya nilai cukup sebagai pengantar awal untuk konfirmasi desain dan ukuran ke pihak sekolah (meskipun, sekali lagi, ukuran akhir tergantung pada permintaan pihak sekolah, yang kadang-kadang suka terlalu jauh diatas "standar" tersebut).



Mudah-mudahan dimasa depan, saya bisa menemukan standar ukuran meja dan kursi sekolah khusus bagi anak Indonesia.  Ada yang mau membagi?

Senin, 28 Maret 2011

Menyulap Pintu Menjadi Rak Sepatu

Sepatu dan sandal adalah dua benda sehari-hari yang acap merepotkan dalam penyimpanannya. Sepatu dan sendal yang tidak ditata dengan baik, akan menimbulkan kesan kotor dan berantakan pada sebuah hunian. Masalah penyimpanan sepatu dan sendal menjadi lebih merepotkan jika hunian yang kita tempati memiliki luas yang terbatas, seperti di rumah susun atau kamar kost. Lalu, bagaimana mengatasinya?

Bagi kita yang tinggal di hunian terbatas, solusi utama masalah ini adalah dengan mengurangi "populasi" sepatu dan sendal yang ada di dalam rumah. Secara berkala, mungkin kita perlu menyortir sepatu dan sandal yang ada. Proses sortir harus mampu memisahkan sepatu yang (1) yang masih digunakan sehari-hari, (2) yang digunakan untuk keperluan khusus (pesta, gaun resmi), dan (3) yang sudah tidak akan/pernah digunakan lagi. Kelompok pertama akan menempati rak sepatu yang kita miliki, kelompok ke dua sebaiknya dimasukkan ke dalam kantung/kotak sepatu dan disimpan secara rapi di dalam lemari pakaian, sedangkan kelompok ke tiga dapat dipertimbangkan untuk diberikan kepada orang lain.

Solusi kedua yang dapat ditempuh adalah menegakkan disiplin dalam "menyimpan sepatu pada tempatnya" kepada seluruh anggota keluarga. Tanpa disiplin, sepatu/sandal lebih banyak berjejer di lantai dibanding berada didalam rak sepatu yang telah disediakan.

Solusi ketiga, memanfaatkan "ruang-ruang sisa" di dalam rumah sebagai tempat sepatu yang cantik (jika memang kebutuhan sepatu tidak dapat dikurangi lagi). Percaya atau tidak, salah satu "ruang sisa" yang dapat dimanfaatkan secara kreatif adalah daun Pintu anda, baik pintu kamar maupun pintu lemari. Syaratnya tentu pintu harus memiliki ruang yang cukup untuk menampung lebar sepatu ini. Perhatikan gambar untuk ide ini.

Rak sepatu dibuat dari besi holow bulat yang di-finishing menggunakan powder coating untuk menjamin daya tahan. Rak dapat dipasang dengan cara disekrupkan ke daun pintu tepat pada tulangannya agar menempel dengan kuat dan mampu menahan bobot sepatu yang akan diletakkan. Memang proses membuka dan menutup pintu menjadi perlu sedikit berhati-hati, namun, sepadan bukan dengan kemungkinan penghematan ruang yang dapat dilakukan.

Rak sepatu ini juga dapat dipasangkan langsung pada dinding, atau bagian tepi dari lemari. Nah, sekarang ada cukup tempat untuk sepatu-sepatu dan sandal-sandal anda.

Minggu, 27 Maret 2011

Mini Kitchen Set

Belum lama ini saya diminta seorang teman untuk membuatkan kitchen set bagi unit rumah susun yang akan ditempatinya. Karena dia masih lajang, tidak banyak memasak, dan tidak akan menetap lama disana, maka dia meminta agar kitchen set yang dibuatkan ini dapat simple, ringan, mudah pemasangan, gampang perawatan, dan dapat dipindahkan dengan mudah kelak.

Untuk menjawab permintaan tersebut, saya buatkan 3 modul meja besi yang masing-masing dapat digunakan sebagai tempat cuci piring, tempat memasak/meletakkan kompor, dan tempat bekerja/meracik masakan. ke-3 modul meja ini dibuat dari pipa besi kotak ukuran 3x3 cm yang difinishing powder coating. Top table masing-masing meja dibuat dari multipleks yang kemudian dilapisi oleh lembaran alumunium. Sedangkan penutup rangka juga menggunakan multipleks yang difinishing menggunakan laminasi taco sheet dan HPL.

Modul meja kerja dapat ditarik keluar ketika digunakan untuk memperluas bidang kerja, dan dapat dikembalikan untuk menghemat tempat. Pada bagian atas modul meja ini, dibuatan ambalan untuk meletakkan piring, microwave oven, dan perlengkapan-perlengkapan lainnya.

Tren Hidup di Rumah Susun

Dulu, ketika kita masih mempertahankan konsep "rumah harus menjejak tanah" atau landed house, kita rela menempuh perjalanan antara 40 hingga 60 Km untuk pulang-pergi dari rumah di bilangan Bekasi atau Tangerang menuju kantor di Jakarta setiap hari. Namun seiring dengan meningkatnya kemacetan, kenaikan harga BBM, dan semakin tidak rasionalnya harga rumah di pinggiran Jakarta, maka pilihan untuk hidup vertikal di rumah susun (yang meskipun kecil dan tidak berhalaman, namun dekat dengan tempat kerja) tampaknya tidak dapat ditolak lagi. Tinggal di rumah susun, mungkin merupakan salah satu solusi untuk menghindari masalah kemacetan dan mahalnya biaya transportasi yang dihadapi oleh warga kota Jakarta.

Bagi masyarakat menengah ke bawah, hidup vertikal dapat dilakukan di rumah susun sederhana milik (Rusunami) seperti yang 5 tahun belakangan ini mulai banyak dibangun. Di jakarta saja, hingga tahun 2011 ini, paling tidak sudah ada 30 rusunami yang siap dihuni. Lepas dari beragam masalah ketidak sesuaian kepemilikan/peruntukan yang acap dikemukakan, tinggal di rumah susun sudah pasti akan menjadi kebiasaan baru bagi masyarakat kota besar Indonesia.

Adalah menarik memperhatikan tren ini, sebagai sebuah hal/budaya/nilai baru, hidup bersama secara vertikal ini pasti membawa banyak "masalah" pada awalnya. Beberapa kebiasaan yang dapat dilakukan secara leluasa di landed house sudah pasti berpotensi membawa pertikaian jika langsung dibawa ke gaya hidup vertikal di rumah susun. Kegiatan memeras pakaian basah dan menjemurnya, memasak makanan dengan proses yang menciptakan asap/bau menyengat, membuang air bekas mengepel ke "tanah belakang", membuang puntung rokok melalui jendela, misalnya, mungkin perlu sedikit disesuaikan dalam tata kehidupan baru di rumah susun. Penghuni baru rumah susun, mungkin perlu melalui semacam "masa orientasi" yang dipandu secara terstruktur oleh pengelola unit rumah susun agar dapat menyesuaikan diri dengan gaya hidup baru tersebut secara lebih cepat dan sesuai dengan harapan bersama. Masa orientasi juga memperkecil potensi konflik antara penghuni lama dan pendatang baru.

(foto diambil dari klasik.kontan.co.id)